Sunday, May 22, 2016

Suatu Senja yang Sempurna


Pada suatu senja yang sempurna
( Maafkan aku Rena )







Pada suatu senja yang sempurna, aku duduk di kursi depan meja belajarku sambil memandang ke langit, melalui jendela kamarku terlihat guratan awan yang berpadu dengan langit senja menghasilkan lukisan alam yang sempurna. Aku yang baru akhir-akhir ini belajar melukis, tiada mampu menangkap keindahan senja yang terus berubah setiap saat.
senja yang indah namun tidak pernah abadi, sekejap akan hilang menjadi malam.

Kepulan asap tiada henti aku keluarkan dari mulutku, sebatang dan sebatang lagi. dalam asbak di meja belajarku sudah penuh dengan puntung-puntung rokok yang tiada menentu berapa jumlahnya, berserakan berantakan bercampur dengan paper-peper tugas kuliahku, gelas-gelas kosong, dan satu botol bir yang setengah terisi menemaniku menikmati senja.

Matahari senja yang melewati jeriji-jeriji jendela kamarku membayang sempurna di lantai, dan di tempat tidurku. Wajah rena yang sedang tertidur pulas tersapu oleh lembutnya sinar matahari senja. Nafasnya teratur saat ia tidur, bibir tipisnya terlihat tersenyum, mungkin ia sedang bermimpi. Antara mimpi dan kenyataan hanya dibatasi oleh satu kejapan mata yang menahan kantuk. Aku rasa bukanlah kantuk yang membuat rena tertidur sampai sepulas itu, malainkan rasa lelah.
Sudah semenjak siang , ia telah menemaniku di kamar ini.

******************************


Di hari yang panas siang itu, sinar matahari yang langsung mengenai kulit terasa begitu keras. Pohon-pohon yang besar di area kampus ini masih dapat menjagaku dari sinar matahari, aku bejalan menuju kampus dengan tergesa-gesa siang itu. Hanya satu tujuanku, bertemu dengan Rena.

Selepas jam kuliah, aku langsung mengajak Rena ke kosanku, jarak dari kampus ke kosan tidak seberapa jauh, hanya berjalan melewati selasar yang kanan kirinya toko,toko,toko, tempat makan, warnet, pertigaan, toko, dan jalan besar. Setelah menyebrang jalan besar itu terus saja berjalan lurus ketika menemukan tikungan pertama berbelok lalu tidak seberapa jauh dari situ ada pagar berwarna coklat yang halamannya masih sejuk dengan pepohonan.

Ada beberapa petak kamar di gedung yang aku pikir lebih menyerupai kelas-kelas perkuliahan. Gedung itu bertingkat tiga dengan ruangan sejajar sebanyak delapan kamar, kamar yang aku sewa untuk menjadi kosanku berada di lantai paling atas dan ujung, ada alasan mengapa aku tidak memilih kamar kosan di lantai paling bawah, aku merasa dengan kamarku di lantai paling atas makin jarang orang untuk mondar – mandir melewati kamar kosanku. Jadi, tidak ada alasan bagi penghuni lain untuk naik ke atas kecuali penghuni kamar di lantai yang sama denganku.

Setelah berpacaran dengan rena sudah seberapa sering ia main ke kosanku, kali ini mungkin yang kesekiankali, jika di hitung menggunakan banyaknya jari tangan, sudah tiada dapat di hitung lagi. Kali ini bukanlah tanpa alasan aku mengajaknya ke kosanku. Kini, ia mulai tahu apa yang aku lakukan di dunia maya. rena sangat marah ketika ia mengetahui cerita cintanya denganku, aku jadikan bahan tulisan untuk menulis cerpen, bukan karena aku menulis cerpen tentang proses temu kenal kami yang membuatnya marah, tapi akhir dari cerpen itu yang membuatnya ia benar-benar marah kepadaku. Tahulah ia, aku menganggapnya hanyalah sebuah hayalan belaka. Tidak jemu setelah ia mengetahui cerpenku, ia selalu saja membahasnya. ia marah bahkan lebih dari marah. Entahlah, apa yang bisa aku gambarkan akan tidakannya padaku setelah ia mengetahui cerpen yang aku buat.
Sudah seminggu ia marah denganku. di seminggu itu, ketika kami saling berpapasan di kampus ia milihatku seperti orang yang tidak mengenaliku. lewat begitu saja. melirikpun tidak, bahkan lebih terlihat “jijik” jika harus bepapasan denganku. Aku mencoba memaklumi sikapnya kali itu. Mungkin, ia ingin aku berfikir akan kesalahan yang aku buat.
aku tidak dapat membayangkan apa yang akan ia lakukan. Jika pada saat ia baru mengetahui tulisanku di dunia maya, amarah kekesalanya langsung di laupkan semuanya hari itu juga, mungkin yang terjadi adalah kemarahan yang mengelegar bagaikan Guntur yang menyambar dan membabi buta. Memang tidak bagus jika harus menyelesaikan suatu masalah dengan emosi mengepul di kepala, semua yang keluar dari emosi adalah amarah. Amarah yang bukan menyelesaikan masalah, malah membuat keruh masalah itu sendiri.
Sudah seminggu ia tidak membalas pesan singkat yang bernada permohonan maafku, sudah seminggu juga ia tidak mengangkat telfon dariku, dan di seminggu itu juga ia tidak mau kenal denganku.

hari ini, aku menunggunya di depan kelasnya. tahu ia keluar kelas langsung aku mengahampirinya, tidak ada alasan lagi baginya untuk menghindar dariku.

“Rena sayangku, aku tersiksa dengan sikapmu seperti ini, sampai kapan kau ingin menyiksaku dengan kebisuanmu?”

aku berkata demikian padanya, aku melihat sinar di wajahnya adalah rasa empati akan perasaan galou yang aku rasakan. Hampir saja matanya berkaca melihat kesuraman di wajahku. Aku tahu ia masih menyayangiku, sampai-sampai tak sampai hati untuk menyiksaku dengan kebisuannya, tidak ada amarah yang paling dahsyat melebihi diam
.
Setelah aku meminta maaf padanya secara langsung. Kini, ia terlihat mau mendengarkan alasanku untuk menjelaskan masalah cerpen itu. Setelah itu, aku mengajaknya ke kantin kampus. suasana kantin yang ramai tiada mengahalanggi kami untuk berbicara serius menyelesaikan masalah kami
.
Cerpen itu, cerpen untukmu Rena, cerpen yang aku buat seperti tulisan fiksi belaka, kami bahas sembari makan siang


Ade HK, Jakarta, 21-25 maret 2010

Related Articles

0 comments:

Post a Comment