Kami membicarakan John Lennon dan Imagine
Aku menekankan padanya bahwa karya seni terlebih-lebih cerpen memiliki roh di akhir cerita, dan hal itulah yang membuat seorang penulis cerita di anggap sukses atau tidak ialah kepintarannya menutup cerita yang ia buat.“aku meminta maaf Rena karena membuat cerita cinta kita terlihat seperti fiksi belaka, aku benar-benar meminta maaf padamu Rena, tidak ada alasan lain selain ingin menutup cerpenku dengan hal demikian, selebihnya aku benar-benar sayang padamu.” Aku berkata demikian padanya.
.
“Sayang” iya Rena,
“kalo gitu maafkan aku, jika baru pada hari ini aku bisa mendengarkan alasanmu tentang cerpenmu itu, aku tidak bisa marah padamu, aku menahan kemarahanku dengan diam, ” Rena memberikan alasan untuk kebisuannya selama seminggu ini, seminggu kami tanpa berkomunikasi hanya aku yang selalu menghubunginya.
Setelah kami berpacaran, aku yang memang memintanya untuk membuat kembali profile dirinya di situs jejaringan. Setelah hampir tiga bulan profile dirinya di dunia maya tidak dapat di bukanya.
Aku berpendapat bahwa situs jejaringan yang kini ada. dapat di gunakan untuk mengcontrol hubungan kami. karena siapa saja orang yang dekat dengannya di dunia nyata akan terproyeksikan di situs jejaringan tersebut, entah melalui foto-foto, wall to wall, atau dari comment status-statusnya.
Rena menyudahi makannya akupun juga. Setelah itu, kami bergegas meninggalkan kantin dan menuju ke kosan.
Kami meninggalkan keramaian, suara berbisik, suara agak keras, teriakan memanggil, suara sendok menghantam piring, gelas yang beradu satu sama lain saat di angkat pelayan kantin, berlahan suara-suara itu hilang seiring langkah kami yang menjauhi suasana kantin. Kami memotong jalan untuk sampai ke kosanku, melawati jalan setapak yang di kanan kirinya di tumbuhi pepohonan. Rasanya kami terjaga dari teriknya sinar matahari. Ruang di antara jari tanganku terisi oleh halusnya tengan rena, selama kami melewati jalan setapak tanganya tidak lepas dari tanganku.
sambil melangkah Kami berbicara mengenai masa hidup pepohonan yang kami lewati.
“pohon Angsana yang besar itu Rena, lihatlah di tepi jalan ini. Pohon itu mungkin yang paling tua di antara yang lainnya, telah hidup lama mungkin sebelum kita ada di dunia ini, atau bahkan sebelum gedung-gedung di area kampus ini ada pohon itu telah ada dan tumbuh dengan sendirinya atau bahkan di tanam oleh seorang namun tidak pernah di ketahui siapa penanam pohon itu”
“Aku ingin hidup seperti pohon Angsana itu Rena, yang selalu memberikan manfaat untuk lingkungan di sekitarnya, pohon itu kuat dan awet, jika ia tetap hidup ia akan berguna membersikan udara yang tercemar oleh ulah manusia,” kataku.
Berlahan langkah kami Mendekat, semakit dekat, semakin dekat lagi dengan pohon Angsana itu, kami sempat berhenti sebentar lalu berjalan kembali untuk melawati pohong angsana itu. Jalan-jalan setelah melewati pohon angsan itu adalah selasar yang kanan kirinya toko alat tulis, toko buku, toko computer, toko baju, warnet, rumah makan, toko baju, pertigaan, toko alat tulis, dan jalan besar.
Saat sampai di kosanku, udara siang yang begitu panas menyelimuti kamarku. aku buka jendela dan pintunya lebar-lebar , kipas yang berada di sudut kamar aku nyalakan dengan kekuatan besar. kipas itu memutar dan berbunyi bagaikan suara baling-baling, udara yang panas di dalam kamar berlahan mulai hilang berganti hangat. Hangat, karena sinar matahari yang masuk melalui jendela masih terasa panas.
Rena yang telah mengetahui kebiasaanku, watakku, bahkan ia telah mengetahui setiap jengkal tubuhku terduduk di kursi depan meja belajarku, sebentar tubuhnya di dekatkan dengan kipas, bajunya yang tipis dengan warna dasar biru terkibas begitu dahsyat bersamaan rambut panjangnya. Aku yang memperhatikan setiap gerak geriknya, merasa sangat terkesan dengannya, dirinya yang sebentar mengusap leher sembari memainkan rambutnya.dan terkadang ia merapihkan rambutnya sambil melirik ke arahku. dan di situlah, di saat ia merapihkan rambutnya sambil melirikku jemu, aura kecantikannya memanahku dalam, dalam sekali, menusuk ruang hampa di hatiku.
Apakah memang setiap wanita di saat merapihkan rambutnya sambil melirik ke arah seorang pria, pria itu akan terpanah olehnya, dan memang pada ke sempatan itulah seorang wanita terlihat ke cantikannya keluar, keluar dari tubuhnya dan memanah siapa saja yang sedang memerhatikannya.
hari ini rena berpakaian sangat simpel, hanya memakai jins dan baju “tei dye”. Yang becorak kuning, merah, dan hijau yang melingkar di tengahnya. Selepas ia mendinginkan suhu tubuhnya ke kipas, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
aku yang dari tadi duduk di tempat tidurku sambil terkadang memeperhatikannya di sela kesibukanku dengan beberapa kertas cigarette dan beberapa marijuana. satu, dua linting marijuana telah selsai. Dan saat rena keluar kamar mandi akupun telah meyelesaikan lintingan yang terakhir.
Ia telah mengetahui kebiasanku sejak awal kami berpacaran, awalnya ia sempat melarangku untuk tidak lagi mengkonsumsi marijuana. Marijuana, tumbuhan yang tumbuh subur di Negara ini. yang sempat identik dengan kaum hippies pada dasawarsa tahun 1960an sampai awal tahun 1970an. Marijuana di pakai sebagai bentuk perlawanan saat itu.
Rena yang sifat dasarnya juga seorang pemberontak mengerti setelah aku menjelaskan mengapa aku mengunakan marijuana.
Hidup ini sayang, hidup yang cenderung di gerakan oleh simbol-simbol dan di rayakan oleh simbol-simbol. Marijuana sayang, adalah simbol bentuk perlawanan generasi muda untuk melawan semua bentuk yang terorganisir dan mengharapkan terjadinya perubahan social dan politik, gerakan protes anak muda di tahun 1960-an kala itu telah melahirkan generasi hippies yang terenal sampai saat ini.
Selapas keluar dari kamar mandi Rena langsung mendekatiku ke tempat tidur, tubuhnya mendekapku begitu dekat-lenganku langsung di rangkul dan di peluknya. Ia memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sebagian wajahku, tekadang tangannya berada di daguku, di kumisku, dan di pipiku.
“Sampai kapan kau akan memelihara bulu-bulu halus di wajahmu ini sayang “ sambil tangannya meraba bulu-bulu halus di wajahku rena bertanya demikian,
“ mungkin sampai selebat dan sepanjang jenggotnya John Lennon, ketika ia dan anggota Beatles lainnya terpengaruh oleh ajaran Buddhisme, dan aku akan memanjangkan rambutku lebih panjang lagi dari ini.“jawabku.
“aku telah menonton film yang kau berikan padaku, aku senang dengan bentuk perlawanan John Lennon dan Yoko Ono untuk meneriakan “ make love “, “ War is Over” kepada pemerintahan Amerika saat itu. dan aku sangat benci polisi amerika, karena telah menangkap John St. Clear, aktivis yang sangat berpengaruh saat itu, namun harus di penjera selama 9-10 tahun karena memberikan dua batang marijuana pada dua wanita polisi yang menyamar” Rena membahas film yang aku berikan padanya.
“ aku bukan saja benci pada polisi amerika sayang, tetapi aku benci Amerika seutuhnya”
Sejenak kami terdiam, hanya suara kipas yang mengisi keheningan. Aku beranjak dari tempat tidur, sebentar melihat ke jendela, awan terlihat berjalan dan birunya langit menjadi warna dasar siang itu. Jam di dinding menunjukan jam satu tepat, aku berjalan berlahan menutup pintu kamarku, lalu menuju ke depan computer. diam beberapa saat karena bingung lalu segera teringat. aku memilih beberapa lagu lalu memasukan kedalam Winamp.
Saat aku berjalan kembali ke tempat tidur, sebuah lagu memecahkan keheningan di antara kami, rena yang masih duduk di tempat tidur sambil memperhatikan setiap apa yang aku lakukan tadi, kini ia tersenyum saat lagu “imagine” aku nyalakan, akupun membalas senyumannya,
Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Sambil menuju ke tempat tidur aku bertanya pada rena
“Apa yang akan kamu lakukan sayang jika di atas sana hanya langit. Iya, hanya langit ? ”
“ maka aku akan percaya, tidak akan ada neraka untuk kita” rena menjawab pertanyaanku.
Selanjutnya bibir tipisnya mendekap, bibirnya menyentuhku dengan lembut, aku membalasnya. kami saling bertatapan dengan tajam, tidak ada jarak antara kami. Aku memainkan lidahku, beradu, bercampur lembut, lembut, maka kami memajamkan mata untuk menikmatinya. sentuhan-sentuhan antara bibir kami terkadang di selingi permainan lidah yang nakal.
“Sebentar sayang” kataku, entah sejak kapan kami senang memadukan sentuhan antara bibir kami dengan asap pekat. Aku menyalakan Marijuaana, lalu menariknya dalam-dalam, hembusan pertamaku telah memberi aroma berbeda di kamarku, dan hembusan yang ke dua, aku keluarkan saat kami memadukan bibir-bibir kami, asap dari mulutku berpindah ke dalam tubuh rena melalui sentuhan bibir yang dahsyat.
Rena yang memang bukan perokok tidak menyukai jika harus menghisap marijuana secara langsung. Ia sangat suka mengisap asap marijuana melalui sentuhan bibirku, dengan begitu kami akan mendapakan sesuatau yang berbeda.
Bibir tipimu ini sayang tiada mampu aku menolak untuk mencumbumu, mungkin dari sentuhan bibirmu inilah aku tidak mampu menahan untuk menjelajahi tubuhmu, menelisik setiap jengkal lengkuknya munggunakan rabaan tanganku atau malah menggunakan bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahku, terkadang bibirku berada di perutnya dan terkadang berada di tempat lain.
*************************************************************************************
.........nyambung lagi entar....
Ade HK
Jakarta, 21-3-10
0 comments:
Post a Comment