Sunday, May 22, 2016

RENA



HUJAN DAN WANITA




Saat ku tuliskan ini untuk mu Rena, hujan mengguyur Jakarta. ini rintik hujan penuh kenangan. saat kota Jakarta yang hujan tiga bulan lalu, aku mengenalmu Rena. jauh sebelum itu, aku memang sudah memperhatikan mu Rena. melihat gerak gerikmu serta melihat tingkah laku mu. Aku senang dengan sifat kekanak-kanakan mu, aku juga senang dengan sifat ke-ibuan, kau juga memiliki sifat manja dan sifat manja itu lah yang mengemaskan. itu telah membuat aku jatuh cinta padamu Rena, walau aku belum mengenalmu saat itu.

Hingga suatu kejadian yang tidak disengaja, pernah kita duduk dalam satu meja yang sama dikantin kampus, kau bersama dengan teman-temanmu dan aku pun bersama dengan teman-teman ku, kita semua tidak saling kenal, tetapi aku telah mengenal tingkah laku mu Rena. saat itu juga, aku ingin memperkenalkan diriku pada mu Rena. telah banyak cara yang ku susun dalam kepala ku untuk berkenalan dengan mu, tetapi semua cara hanya menjadi gunung yang bisu dalam kepalaku, tanpa berani aku letuskan untuk memperkenalkan diriku. aku malu, aku sangat malu saat itu.

Kejadian dikantin kampus pada saat itu, telah mangajari dan meyakinkan diriku. bahwa engkau telah tau, aku ada untuk memeperhatikanmu. perasaan yakin dalam diri, aku dapatkan, setelah aku dan kamu sama-sama mencuri pandang saat itu juga.

Sejak kejadian itu, aku berjanji dalam diriku untuk mengunakan peluang sekecil apapun untuk mengenalmu Rena, hingga terjadilah hujan mengguyur Jakarta di tiga bulan yang lalu. aku tau jika kau pulang, kau selalu sendiri. hingga aku menggunakan peluang itu untuk mengenalmu Rena. Sengaja aku menunggu mu dihalte depan kampus, hingga benar hanya kau dan aku disana. saat menunggu hujan reda, baik aku maupun kamu tidak ada kata-kata terucap. hanya suara rintik hujan dan lalu lalang kendaraan telah mengisi kebisuan antara kita. Kali ini rena, dan memang tuhan telah menjawab keinginanku untuk memberikan kesempatan berkenalan dengan mu. Kalimat pertama untuk mu Rena,

“mau kah pulang bersama dengan ku?” Kau tidak menjawabnya Rena, tetapi hanya mengangguk mau untuk ku antar pulang.

Dalam perjalanan kau tidak berkata-kata, makin gugup aku membuka pembicaraan dengan mu. hingga mendekati rumahmu pun, kau berbicara seadanya, hanya kau tunjuk-tunjuk arah rumah mu. sampai aku bingung sifat apa yang ingin kau tunjukan saat itu. bigitu dingin sifatmu seperti rasa dingin sehabis hujan. sesampai dirumahmu, baru sifat hangatmu keluar. mempersilakan ku masuk dan memberikan teh hangat untuk menghangatkan dingin sehabis hujan. saat pertama membicarakan apapun tentang apapun dihalaman depan rumahmu, waktu terlarut dengan cepat. Tidak ada perasaan bosan dalam diriku, kau memberikan kesan pertama yang sangat mendalam.

aku malu jika harus menuliskan perasaan ku saat itu disini, tetapi untuk mu rena, inilah perasan ku, saat kita pertama kali menghabiskan waktu bersama. Saat itu, aku tidak ingin melepeskan pandanganku selain ke paras wajahmu, kau begitu mempesona ku Rena. bukan itu saja, saat berbicara kau pun sangat mempesona ku. karena pembicaraan yang kau bicarakan adalah wawasan yang luas, kau bicara dengan pemahaman yang dalam akan suatu masalah sehingga kau tidak seperti orang yang omong kosong, dan kau mendengarkan pembicaraan dengan telaten untuk memahami setiap pembicaraan yang tidak kau mengerti. Hingga kau dan aku tau siapa Pablo Picasso hingga kita tau Siapa itu Antonio Blangko, kita membicarakan tokoh dunia dan membicarakan sejarah dunia, pendapat kita pun sama dan kebiasaan kitapun sama, pendapat kita sama tentang acara televisi. Kita berpendapat televisi menghibur masyarakat sekaligus membodohinya, hingga televisi membuat otak masyarakat kita seperti permukaan air tanah pada musim hujan, dangkal. kebiasaan kitapun sama, untuk lari dari pembodohan televisi adalah dengan banyak membaca.

Rena saat itu dimalam itu pula, kita tau bersama. kau dan aku tiada apa-apa, tetapi setelah malam itu reaksi kimia berproses dalam diri kita, kita sama-sama merasakan kerinduan, senang yang tidak biasa, buta mata namun hati terbuka untuk mu dan untuk ku. Rena tidak jauh dari kejadian malam itu. kita memang memikat janji atas dasar yang sama, dan atas rasa yang sama, aku dan kau kini ada apa-apa, ada komitmen.

Rena semenjak aku kenal dengan mu dan menjalani komitmen itu, aku mulai belajar. Aku beli kanvas banyak-banyak, aku beli cat air banyak-banyak dan aku beli kuas banyak-banyak, aku mulai belajar menjadi pelukis. Aku senang melukis hewan, karena dengan melukis hewan aku dapat menggambarkan sifat-sifat mu Rena, aku menggabar ke elokan Bunglon untuk mu Rena, aku melihat sifat mu dan bunglon hampir mirip, kau dapat mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sensitif akan suatu perubahan. Yang ku suka, kau dengan mudah merubah sifat mu sesuai dengan keadaan diri ku. kau dapat seperti ibuku, saat aku memerlukan kehangatan kasih sayang. kau dapat menjadi seperti anak kecil yang menggemaskan, saat aku memanjakan dirimu. dan kau dapat berpenampilan seperti Bunglon yang anggun, saat kita menghadiri suatu pesta.

Rena walaupun setiap malam aku dan kamu tidak dapat bertemu tetapi aku selalu ingin menghangatkan malam mu, saat malam hanya lelah memang yang tersisa, Tetapi aku tidak lelah untuk merangkaikan kata-kata melalui pesan singkat. Walau aku tau Rena, telah banyak kata-kata di dunia ini yang telah terpakai, dan terangkai menjadi puisi oleh pujangga, kata-kata menjadi syair oleh penulis lagu, dan oleh filsuf kata-kata itu menjadi kata-kata bijak. Aku mencari sisa dari kata-kata yang belum terpakai di dunia ini. sehingga ku pilihkan kata-kata yang memiliki makna untuk menggambarkan perasaan ku padamu. Semoga kau tak menggap aku menggombal.

Rena hujan diluar telah reda menjadi tetesan kecil yang dengan mudah terbawa angin. saat ku tuliskan ini untuk mu, aku akan mencantumkan impianku dan anggan-angan ku bersamamu Rena. Rena, pernahkah kau melihat keadaan sekitar melalui ketinggian ?, jika belum inilah impian ku, aku ingin suatu saat kita dapat bersama melihat matahari terbit dengan menggunakan Balon Udara. pada Balon Udara itu, hanya ada kau dan aku didalamnya. melihat dari segala arah adalah pemandangan terbuka. di ketinggian tiga ribu kaki kita akan mengarungi luasnya lautan, di Balon Udara tersebut Rena, saat memandang ke timur di garis pertemuan antara langit dan laut kita menuggu matahari terbit disana, berlahan-lahan sinarnya akan menguningkan permukan laut, dan saat itu gemercik air laut memantulkan sinar matahari ke mata kita, hingga membuat silau mata kita, aku ingin seperti matahari itu Rena dalam kehidupan mu, memberikan terang yang menuntun hidup mu, aku ingin menjadi sesungguh - sungguhnya kekasihmu Rena, kelak aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anak ku.

Rena di tiga bulan ini, aku sangat senang saat memadu kasih dengan mu. Hinggga, aku mencoba menuliskan kesenangan itu di atas sebuah permukaan air, tetapi belumlah ku selsai menuliskan satu kata, kata itu terburu tersapu. Apa maksud dari semua ini Rena, apakah kebahagian dalam bercinta hanyalah kebahagian semu? Apakah cinta yang diibaratkan oleh pemikir cinta benar adanya, dia mengibaratkan cinta bagaikan sebuah benda, yang jika tersinari matahari akan memiliki bayangan disekitarnya, dan bayang-bayang dari cinta adalah penderitaan.

Tetapi Rena jika benar adanya seperti itu, aku telah membawa cinta kita untuk disinari oleh matahari, entah apa bayang-bayang dari cinta kita Rena, aku belum dapat jelas melihatnya, semoga saja tidak dan bukan itu bayang-bayang dari cinta kita Rena.
Semoga saja sinar matahari itu bukan harta, bukan paras wajah, dan bukan juga pangkat dan jabatan. jika sinar cinta kita benar-benar bukan itu, maka bayang-bayang dari cinta kita adalah kebahagian.

Rena apapun adalah kau. kini saat ini kau adalah aku, karena kau rena aku menulis ini. iya, karena kau bukan orang lain, dan memang benar-benar kau. karena engkau adalah “fantasy”. yang hadir saat ku tulis INI..



Rakab lah,,,,,,,hahahhaha………







Inspirited by The Sastro “Kaktus”


Ade Irawan. Jakarta,070110

Related Articles

0 comments:

Post a Comment